Jumat, 23 Mei 2014

teruntukku bunda tersayang

halo ma..! Panjang ku hanya 2cm saja tapi akutu udah ada organ seluru di badan. Setiap kali aku dngr suara mama, aku pasti goyang kan kaki dan tangan ku, geeemmmesss dech. . . . . . Aku sayang mama, bunyi detak jantung mama itu musik terindah yg temani hari-hari ku. . . . ~Bulan ke dua ma..! Sekarang aku lagi belajar isap jari2 imut ku... Asyik dech ma. Oiya ma, disini hangat lho ma.. Entah kalau aku udah keluar, aku mau main sama mama.. Aku janji akan buat mama bahagia.. ~bulan ke tiga. Ma..! Aku belum tau apa jenis kelamin ku. Tapi apa pun aku, aku harap mama dan papa senang ya. . !? Ma.. Janji ngk boleh nangis ya..!!? Tau ngk ma... Kalau mama nangis, aku juga ikut nangis,. hu hu hu. . . Meski mama blm bisa dnr suara ku, aku sedih banget dech. . . .Percayalah ma, tuhan pasti memberikan yang terbaik bagi kehidupan mama, apa pun itu. ~Bulan ke empat.. Mama...! Rambut ku mulai tumbuh lho ma...! Ini jadi mainan baru ku. . . . Ha ha oh ya ma...! Aku sekarang udah bisa menengokan kepala ku, puter kiri, kanan tralala. . . . . . . Aku juga bisa gerakin tangan dan kaki ku lho ma...! ~bulan ke lima. . Ma,.! Hari ini mama ke dokter ya ..? Tadi dokter itu bilang apa ma.? Apa itu aborsi. ?? Ma... Aku ngk di apa-apain kan ma. ? Ma... Aku koq tiba-tiba takut.! Ma... Aku sayang mama.... Ma... Aku sehat-sehat saja lho ma...! Ma..! Tolong kasih tau dokter itu ma.. Dokter itu sudah mulai memasukan benda-benda tajam. Ma.. Benda ini mulai memotong- motong rambut ku mama.... Tooolllooonnngg.... Aku benar-benar sayang mama.. Aku mau berbakti sama mama, aku janji aku akan membahagia kan hidup mama..... Ma.... Apa mama ngk sayang aku. Ma... Benda tajam ini mulai memotong-motong kaki ku.. hu hu hu. . . Saaakkkiiit ma... Saakkkiiitttt ma...! Ma... Aku salah apa sich sama mama..?? Ma.. Meski aku hidup tanpa kaki, aku masih punya kedua tangan, yang membelai mama dan memeluk mama yang aku sayangi....... Ma...Tolong kasih tau dokter itu untuk hentikan benda-benda biadab ini ma... Ma., toooolllooongg., ma., sekarang benda tajam ini mulai memotong kedua tangan ku ... Ma,.. hu hu hu...,saaakkiiittt..,. Saaaakkkiiittt ma...!! Aku salah apa sich sama mama...?? Ma.. Meski aku hidup tanpa tangan dan kaki, aku masih punya, kedua mata, telinga, hidung, mulut dan anggota badan ku yang lain nya.... Aku masih ada kesempatan untuk melihat wajah mama yang ku sayangi... Aku masih bisa bilang, ke mama, bahwa aku cinta mama ma...Saaakkiittt..... Saakkiiit ma...!! Ma.. Sekarang benda tajam ini mulai memotong leherku ma..!! Ma..Tooolllooong... Saaakkkiiitt..,..Ma...!! ~bulan ke tujuh.. Ma..!! Aku baik-baik saja.. Aku sudah bersama ALLAH di syurga.. ALLAH sudah mengembalikan semuah organ tubuh ku yang di potong dengan sadis oleh benda- benda tajam itu... ALLAH memegang tangan ku,, ALLAH menggendong ku dan memeluku dengan lembut nya ALLAH telah membisikan ketelinga ku tentang apa itu ABORSI..!? Ma,, kenapa mama ngk mau main sama aku..?? Apa salah anak mu ini..? Kenapa mama tega berbuat kejam terhadap dara daging mama sendiri...?? Bukankah mama percaya bahwa Tuhan punya rencana terbaik dan terindah buat hidup mama kenapa mama menolak Hadiah dari tuhan..?? Bukankah mama tau kalau hidup ini hanyalah sebuah perjalanan..?? Bukankah hidup ini hanya sementara.?? Ma., masih banyak pertanyaan KENAPA, KENAPA. KENAPA dan Kenapa. . . . Yang ingin ku tanyakan soal tindakan mama terhadap ku..? Pesan ku buat mama..!! Beri tau semua teman mama.. STOP ABORSI..! Beri tau semua teman mama.. Betapa sakit nya aku di potong- potong di dalam kandungan mama, seperti seonggok daging yang tak berguna. . . . Beri tau sama teman mama.... Aku berhak hidup di dunia ma.! Beri tau semua teman mama ABORSI itu bikin murka ALLAH.! Semoga mama mengerti dengan apa yang anak mu maksud... Yaa Allah...! Ampunilah dosa mama ku..! Sebab mama tidak tau apa yang tela mama perbuat. . . . Sebab mama tidak tau betapa sakit nya aku di potong-potong kala itu. . . . .

SURAT DARI ANAK YANG DI ABORSI

--^^ Surat dari Anak yang d'ABORSI ^^--

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarrakatuh

Teruntuk Bundaku tersayang...

Dear Bunda...

Bagaimana kabar bunda hari ini? Smoga bunda baik-baik saja...nanda juga di sini baik-baik saja bunda... Allah sayang banget deh sama nanda. Allah juga yang menyuruh nanda menulis surat ini untuk bunda, sebagai bukti cinta nanda sama bunda....

Bunda, ingin sekali nanda menyapa perempuan yang telah merelakan rahimnya untuk nanda diami walaupun hanya sesaat...

Bunda, sebenarnya nanda ingin lebih lama nebeng di rahim bunda, ruang yang kata Allah paling kokoh dan paling aman di dunia ini, tapi rupanya bunda tidak menginginkan kehadiran nanda, jadi sebagai anak yang baik, nanda pun rela menukarkan kehidupan nanda demi kebahagiaan bunda. Walaupun dulu, waktu bunda meluruhkan nanda, sakit banget bunda....badan nanda rasanya seperti tercabik-cabik... dan keluar sebagai gumpalan darah yang menjijikan apalagi hati nanda, nyeri, merasa seperti aib yang tidak dihargai dan tidak diinginkan.

Tapi nanda tidak kecewa kok bunda... karena dengan begitu, bunda telah mengantarkan nanda untuk bertemu dan dijaga oleh Allah bahkan nanda dirawat dengan penuh kasih sayang di dalam syurga Nya.

Bunda, nanda mau cerita, dulu nanda pernah menangis dan bertanya kepada Allah, mengapa bunda meluruhkan nanda saat nanda masih berupa wujud yang belum sempurna dan membiarkan nanda sendirian di sini? Apa bunda tidak sayang sama nanda? Bunda tidak ingin mencium nanda? Atau jangan-jangan karena nanti nanda rewel dan suka mengompol sembarangan? Lalu Allah bilang, bunda kamu malu sayang... kenapa bunda malu? karena dia takut kamu dilahirkan sebagai anak haram... anak haram itu apa ya Allah? Anak haram itu anak yang dilahirkan tanpa ayah... Nanda bingung dan bertanya lagi sama Allah, ya Allah, bukannya setiap anak itu pasti punya ayah dan ibu? Kecuali nabi Adam dan Isa? Allah yang Maha Tahu menjawab bahwa bunda dan ayah memproses nanda bukan dalam ikatan pernikahan yang syah dan Allah Ridhoi. Nanda semakin bingung dan akhirnya nanda putuskan untuk diam.

Bunda, nanda malu terus-terusan nanya sama Allah, walaupun Dia selalu menjawab semua pertanyaan nanda tapi nanda mau nanyanya sama bunda aja, pernikahan itu apa sih? Kenapa bunda tidak menikah saja dengan ayah? Kenapa bunda membuat nanda jadi anak haram dan mengapa bunda mengusir nanda dari rahim bunda dan tidak memberi kesempatan nanda hidup di dunia dan berbakti kepada bunda? Hehe,,,maaf ya bunda, nanda bawel banget... nanti saja, nanda tanyakan bunda kalau kita ketemu

Oh ya Bunda, suatu hari malaikat pernah mengajak jalan-jalan nanda ke tempat yang katanya bernama neraka. Tempat itu sangat menyeramkan dan sangat jauh berbeda dengan tempat tinggal nanda di syurga. Di situ banyak orang yang dibakar pake api lho bunda...minumnya juga pake nanah dan makannya buah-buahan aneh, banyak durinya...yang paling parah, ada perempuan yang ditusuk dan dibakar kaya sate gitu, serem banget deh bunda.

Lagi ngeri-ngerinya, tiba-tiba malaikat bilang sama nanda, Nak, kalau bunda dan ayahmu tidak bertaubat kelak di situlah tempatnya...di situlah orang yang berzina akan tinggal dan disiksa selamanya. Seketika itu nanda menangis dan berteriak-teriak memohon agar bunda dan ayah jangan dimasukkan ke situ.... nanda sayang bunda... nanda kangen dan ingin bertemu bunda... nanda ingin merasakan lembutnya belaian tangan bunda dan nanda ingin kita tinggal bersama di syurga... nanda takut, bunda dan ayah kesakitan seperti orang-orang itu...

Lalu, dengan lembut malaikat berkata... nak,kata Allah kalau kamu sayang, mau bertemu dan ingin ayah bundamu tinggal di syurga bersamamu, tulislah surat untuk mereka... sampaikan berita baik bahwa kamu tinggal di syurga dan ingin mereka ikut, ajaklah mereka bertaubat dan sampaikan juga kabar buruk, bahwa jika mereka tidak bertaubat mereka akan disiksa di neraka seperti orang-orang itu.

Saat mendengar itu, segera saja nanda menulis surat ini untuk bunda, menurut nanda Allah itu baik banget bunda.... Allah akan memaafkan semua kesalahan makhluk Nya asal mereka mau bertaubat nasuha... bunda taubat ya? Ajak ayah juga, nanti biar kita bisa kumpul bareng di sini... nanti nanda jemput bunda dan ayah di padang Mahsyar deh... nanda janji mau bawain minuman dan payung buat ayah dan bunda, soalnya kata Allah di sana panas banget bunda... antriannya juga panjang, semua orang sejak jaman nabi Adam kumpul disitu... tapi bunda jangan khawatir, Allah janji, walaupun rame kalo bunda dan ayah benar-benar bertaubat dan jadi orang yang baik, pasti nanda bisa ketemu kalian.

Bunda, kasih kesempatan buat nanda ya.... biar nanda bisa merasakan nikmatnya bertemu dan berbakti kepada orang tua, nanda juga mohon banget sama bunda...jangan sampai adik-adik nanda mengalami nasib yang sama dengan nanda, biarlah nanda saja yang merasakan sakitnya ketersia-siaan itu. Tolong ya bunda, kasih adik-adik kesempatan untuk hidup di dunia menemani dan merawat bunda saat bunda tua kelak.

Sudah dulu ya bunda... nanda mau main-main dulu di syurga.... nanda tunggu kedatangan ayah dan bunda di sini... nanda sayang banget sama bunda....muach!

Jumat, 28 Februari 2014

teks drama "SEKOLAH"


TOKOH

- DIAS SARA YUPITA
- ELISA NURALIMAH
- FARDIAN DWI CAHYA
- INOVAN REBIANTO
- SYARIF HIDAYAT ( Pak Guru )

LATAR ( SEKOLAH )

 ini adalah pagi yang cerah. Dias dan Elisa sedang asik membaca buku di koridor sekolah, soalnya nanti siang ada ulangan harian.


INOVAN : yas el, rajin sekali kalian berdua

DIAS : iya dong, tugas kita sebagai pelajar kan memang harus belajar, hehehe

INOVAN : iya juga sih. eh ngomong ngomong kalian tahu tidak, ada murid baru yang akan masuk kelas kita hari ini!!

ELISA : oh ya, siapa namanya??? cowo' apa cewe' ?

INOVAN : cowo', tapi aku juga belum tahu siapa namanya dan seperti apa rupanya ( BEL SEKOLAH BERBUNYI )

DIAS : eh ayo masuk kelas!

PAK GURU ( SYARIF ) : selamat pagi, anak anak hari ini kita kedatangan teman baru dari aceh, akan menjadi teman sekelas kalian. silahkan perkenalkan dirimu nak!

FARDIAN : Selamat pagi teman-teman, saya Fardian Dwi Cahya, saya dari Aceh..

DIAS : <Berbisik pada Elisa> Jauh sekali ya dari Aceh pindah ke Kendal <Elisa Mengangguk>

PAK GURU (SYARIF) : Fardian , kamu duduk di belakang Inovan ya? Untuk sementara kamu duduk sendiri dulu, karna jumlah siswa di kelas ini ganjil < Fardian segera duduk di kursi yang di sediakan>

PAK GURU (SYARIF) : ya baiklah, sekarang kita mulai pelajaran hari ini. Buka buku kalian halaman 48 <pelajaran pun dimulai>

Tiba saatnya jam istirahat. Fardian yang belum memiliki teman, diam saja duduk di kursinya sambil menunduk

INOVAN : ssstt, yas , el.... coba lihat anak baru itu, sendiri aja <bisiknya>

DIAS : ayo kita dekati saja <ketiganya menghampiri Fardian>

ELISA : hei, Fardian. Kenalkan aku Elisa, ini Inovan dan Dias <menunjuk kedua temannya

<Ketiganya duduk di sekeliling Fardian>


FARDIAN : hai, salam kenal teman teman

INOVAN : kok kamu gak jajan ke kantin

FARDIAN : engga’ kok, aku bawa bekal makanan dari rumah

<pelan sekali sambil duduk>

DIAS : oh begitu, rajin sekali kamu Far

<keempat siswa ini mulai telibat obrolan ringan sehingga Fardian merasa di temani>


Saat jam pulang sekolah, PAK GURU memanggil Elisa dan Inovan yang hendak pulang ke rumah


PAK GURU : Elisa, Inovan kesini sebentar. Bapak mau menanyakan sesuatu

INOVAN : ada apa pak?

PAK GURU : itu bagaimana perilaku Fardian di kelas? Apakah dia bisa membaur

INOVAN : dia agak pendiam pak. Dan suka menunduk saat berbicara

ELISA : tadi di jam istirahat kami berusaha mendekatinya. Kami mengobrol cukup lama, ia anak yang baik kok hanya saja kurang PD

PAK GURU (SYARIF) : hmmmm.... begitu ya anak anak, Fardian adalah salah satu korban selamat tragedi tsunami Aceh

ELISA : ya Tuhan sungguh berat cobaan yang menimpanya

PAK GURU : ya sudah, bapak Cuma mau bilang begitu kalian berbaik baiklah dengannya. Temani dia agar tak merasa kesepian
< Elisa dan Inovan pamit pulang >

(dirumahnya Inovan terus menerus memikirkan teman barunya, Fardian. Akhirnya ia mendaatsebuah ide. Dikabarkannya Elisa dan Dias melalui sms )

INOVAN : eh kalian bawa apa yang kemarin aku omongin

DIAS : bawa dong. Ayo kita dekati Fardian

ELISA : Fardian, bolehkah kami bertiga makan bersamamu

FARDIAN : < dengan sedikit kikuk> eh...um boleh saja

(Inovan, Dias, Elisa  mengeluarkan bekal makananya mereka bertiga juga mengeluarkan camilan untuk dimakan bersama sama)

FARDIAN : terimakasih teman, kalian semua teman teman yang baik

(semenjak itu Fardian semakin kuat menajalani kehidupannya. Berkat dukungan dari teman temannya)

Rabu, 22 Januari 2014

Sebentar lagi minumannya habis, bocah berkaus lusuh itu membatin. Matanya tak sedikitpun berpaling dari pemuda berambut acak-acakan yang memegang gelas Aqua. Isinya tinggal separuh. Bocah itu menggosok-gosokkan kedua kakinya yang sedari tadi menginjak tribun taman kota Baturaja. Sandal bukanlah hal yang ia pikirkan. Hanya dingin, namun itu sudah biasa pula baginya. Pikiran itu hanya hinggap sejenak sebelum musnah dari benaknya.
Sebenarnya ia ingin segera pulang, tapi tanggung. Karungnya tidak penuh malam ini, padahal karung penuh saja cuma dihargai tiga ribu rupiah. Mau tak mau ia harus mendapatkan gelas bekas itu, meskipun hanya satu. Seandainya saat itu malam Minggu, ia bisa mengumpulkan tiga kali lipat lebih banyak. Sayang malam Minggu hanya ada tujuh hari sekali. Bocah itu menghela napas, ekor matanya kembali mencuri pandang.
Isinya tinggal seperempat.
Si bocah menguap. Kantuk sedari tadi menderanya. Ia mati-matian membelalakkan mata. Ia tak tahu sekarang jam berapa, mungkin lebih malam dari yang disangkanya. Jam 11? Jam 12? Ah, mana kenal ia dengan waktu. Satu-satunya penunjuk waktu di rumahnya adalah arloji murahan kesayangan ayahnya, hasil nemu enam bulan lalu, yang selalu ia bawa kemana-mana. Jangan harap bisa meminjam benda tersebut, kecuali kalau memang ingin diludahi oleh ayahnya.
Kalau ia tidur, meskipun cuma tidur-tidur ayam, ia takut hasil pulungannya diambil orang. Di dunia yang penuh kecurangan ini, pemulung pun harus menyesuaikan diri. Ikut-ikutan curang. Adu mulut dengan pemulung lain sudah menjadi santapan sehari-harinya. Kadang malah dia yang mengambil hasil pulungan orang lain. Ambil segelas dua gelas, sebotol dua botol, kalau bisa lebih, ya, bagus.
Kosongnya jalanan membuat ia sadar kalau saat itu memang sudah larut malam.
Ya, dua anak manusia duduk di tribun taman yang merupakan pusat kota kecil. Dua-duanya tampak sibuk dengan pikiran masing-masing, meskipun menyadari kehadiran satu sama lain. Dua-duanya tampak tak ingin beranjak dari tempat itu. Dua-duanya saling menunggu.
Detik demi detik habis dalam lamunan semata. Sampai akhirnya si pemuda menyerah. Ia melemparkan gelas plastik yang masih terisi seperempat itu, lalu berbaring beralaskan lantai dingin, berselimut langit hitam.
Bocah itu, dengan senyum lega di wajah, memanggul karung di sampingnya, kemudian berlari mengambil gelas bekas yang dilemparkan si pemuda. Ia melangkah pulang, meninggalkan pemuda yang diam-diam mengawasi punggungnya di bawah sinar bulan.

******
Nama pemuda itu Davi. Usianya baru delapan belas tahun. Terlahir sebagai anak bungsu dengan dua orang kakak yang jauh lebih tua darinya membuat ia menerima kasih sayang berlebih. Seperti kebanyakan anak bungsu, sedikit demi sedikit sifat manja menjadi karakter utamanya. Apapun yang ia inginkan harus terpenuhi, tidak bisa lain. Sikapnya itu menjengkelkan dan hanya beberapa orang saja yang tahan menghadapinya.
Sifat manja itu menuai masalah beberapa hari ini. Ia bertengkar dengan sang ayah karena Beliau tak mau membelikannya motor baru. Ayahnya rupanya memutuskan untuk ‘mendewasakan’ Davi. Namun ia terlambat. Putra bungsunya sudah terlalu angkuh untuk dikecewakan oleh siapapun. Setelah debat penuh amarah, Davi memutuskan kabur dari rumah. Seperti cerita sinetron.
Seharian ia berada di kosan temannya, tapi ketika jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, ia pamit pulang. Ia tak mau temannya tahu perihal kabur ini. Meskipun Davi merasa perbuatannya ini sudah benar—agar ayahnya menyesal dan memintanya pulang—tapi ia cukup besar untuk mengakui kalau perbuatannya itu kekanak-kanakkan. Seandainya ia menceritakan hal tersebut kepada temannya, ia akan berakhir dengan ditertawakan habis-habisan. Kabur?
Mau kabur kemana, Baturaja kota kecil kayak gini? Ini bukan Jakarta! Dicari setengah jam aja pasti sudah ketemu! Emang kamu siapa sok-sok kabur segala? Davi membayangkan jika temannya tahu. Ia tak mau kelihatan konyol.
Saat melewati taman kota, ia memutuskan untuk membeli seporsi mi tek-tek. Ia kelaparan karena sejak siang belum makan. Setelah makan ia duduk di tribun. Taman kota sudah sepi, mungkin karena hari itu hari Rabu, bukan Sabtu atau Minggu. Ia hanya mendapati beberapa penjual mi tek-tek di sana, itu pun sudah beres-beres.
Ia melamun.
Malam ini akan menjadi malam pertamanya tidak tidur di kamar. Malam ini akan menjadi malam pertamanya tidak menonton tv. Malam ini kehidupan ‘keras’ baru saja ia mulai.
Sampai kapan ia mau kabur? Davi tidak tahu. Mungkin dua-tiga hari? Ia sengaja mematikan handphone-nya jadi sang ibu yang pencemas takkan bisa menghubunginya. Mungkin besok ia akan mengaktifkannya, membiarkan ibunya menelepon, sambil berpura-pura menanggapi dengan dingin.
Itu, sebuah skenario paling konyol dan kekanakkan di muka bumi.
Tapi semuanya sudah terlanjur. Ia tak bisa menarik kemarahannya, apalagi kemarahan ayahnya. Biasanya ayahnya tidak begitu, biasanya ayahnya memberikan apapun yang ia mau detik itu juga. Mereka tidak pernah bertengkar. Ini pertama kalinya sekaligus pertengkaran terbesar yang pernah terjadi di bawah atap rumah keluarganya. Namun mereka berdua terlalu serupa, terlalu keras kepala untuk bisa ditenangkan.
Api kemarahan terhadap sang ayah memercik lagi. Kalau saja ayahnya bersikap seperti biasa, maka kejadian ini tak perlu ada. Ia tak harus berada di tribun taman malam-malam begini, sendirian.
Tidak benar-benar sendirian.
Ia mendapati seorang bocah berbaju lusuh duduk agak jauh darinya, di anak tangga terbawah, sementara ia sendiri duduk di anak tangga kedua teratas. Di samping bocah itu tergeletak sebuah karung tipis berisi gelas bekas. Pasti pemulung.
Apa rasanya jadi pemulung? Tiba-tiba pertanyaan itu melintas di benak Davi. Kenapa bocah itu belum pulang? Apa saja yang dikerjakannya seharian? Siapa orangtuanya? Apa pekerjaan mereka? Diam-diam ia memandangi bocah itu. Dilihatnya bocah itu menguap. Kenapa ia belum pulang ke rumah?
Ah, tak ada gunanya mengurus hidup orang lain. Hidupnya sendiri sedang bermasalah. Davi memutuskan untuk mengabaikan bocah itu dan sibuk dalam pikirannya sendiri. Untungnya ia selalu memakai jaket kemana-mana sehingga ia dingin malam tak begitu menusuknya. Pemuda itu mengerjap-ngerjapkan mata. Ia harus tidur.
Tapi dimana?
Ia tak punya rumah sekarang—sementara ini, paling tidak. Ia memang punya uang, beberapa lembar dua puluh dan sepuluh ribuan, tapi ia tak yakin uang itu cukup untuk menyewa kamar penginapan atau hotel. Kalau mau ke rumah temannya, ia tak punya kendaraan. Lagipula rumah temannya rata-rata jauh, yang terdekat adalah rumah teman tempatnya berada sejak tadi siang, dan ia tak mau kembali ke sana, siapa tahu ayahnya sudah mencari ke sana.
Davi berdecak, melemparkan gelas minumannya sembarangan, lalu berbaring. Tak ada pilihan lain, ia harus tidur di sana malam ini, sebagai gelandangan. Ia bersumpah ayahnya harus membayar semua ini.
Dari sudut mata ia melihat bocah pemulung itu berlari mengejar gelas bekasnya, lalu memasukkannya ke karung yang dipanggulnya. Davi mengernyit. Ternyata, bocah itu menunggunya! Kenapa ia tidak bilang kalau mau memulung gelas itu? Kan ia bisa memberikannya dari tadi.
Bocah aneh, pikirnya dalam hati seraya memandangi kepergian anak itu. Begitu berartikah sebuah gelas bekas? Sebuah saja tidak akan ada harganya, kan?
Pemuda itu mengendikkan bahu, lalu berguling ke samping. Ia mencoba tidur. Membayangkan kasur yang empuk…
membayangkan kamar yang hangat…
bayangkan, bayangkan…
- See more at: http://www.beritanda.com/seni-dan-sastra/cerpen/12230-cerpen-pemulung.html#sthash.1pqBgi9p.dpuf

Selasa, 21 Januari 2014

¤ Hati Ini Masih Untukmu ¤

Tegar ku Sembunyikan Duka
Senyumku Sembunyikan Tangis
Itulah yang ku Lakukan Saat Ini

Walaupun Berjuta Luka yang kou Toreh
Hatiku Tak Bisa Palingkan Namamu
Aku Masih Menyayangimu
Hati Ini Masih Untukmu

Kembalilah.....,
Aku Masih Berharap Dirimu
Aku Tlah MemaafkanMu
Tetaplah Menjadi yang Terindah di Hatiku
EPISODE CINTA

Seseorang yang dulu hadir dalam kehidupanku
Seseorang yang menyadarkanku berartinya setetes air mata
Seseorang yang mengajariku arti sebuah kesetiaan
Seseorang yang menberitahuku apa itu cinta

Apakah salah bila aku menginginkanmu kembali
Kembali mengulang episode-episode masa lalu
Episode disaat kita bersama menatap birunya langit
Episode disaat kita mengarumi lautan kasih
Episode disaat kita mengukir cinta di bawah sinar rembulan

Apakah salah? kurasa tidak !
Hanya saja mampukah aku menahan perihnya luka hati
Hati yang dulu pernah kau singgahi
Hati yang pernah kau buat luluh dari kebekuaannya
Kini dia tak lagi utuh, dia retak, patah dan hancur

Dan sekarang aku hanya bisa berharap
Berharap agar hatiku dan hatimu kembali bersatu
Tapi aku sadar harapan itu hanyalah harapan semu
Karena aku tau sekarang kau bahagia bersama dirinya

Rabu, 04 Desember 2013

DEWA TELAH MATI

Tak ada dewa di rawa-rawa ini
hanya gagak yang mengakak malam hari
dan siang terbang mengitari bangkai
pertapa yang terbunuh dekat kuil.

Dewa telah mati di tepi tepi ini
hanya ular yang mendesir dekat sumber
lalu minum dari mulut
pelagur yang tersenyum dengan bayang sendiri.

Bumi ini perempuan jalang
yang menarik laki-laki jantan dan pertapa
kerawa-rawa mesum ini
dan membunuhnya pagi hari